Catatan Akhir Tahun Yayasan Pesantren Ramah Anak (YPRA): Di Tahun 2024, Harus Ada Upaya Yang Lebih Efektif dan Massif Untuk Cegah Terjadinya Kekerasan Terhadap Anak Santri!

PESANTRENRAMAHANAK.OR.ID, JAKARTA- Jelang tutup akhir tahun 2023, masih saja terjadi kekerasan terhadap anak santri, seperti beberapa santriawati yang mengalami pelecehan seksual oleh oknum kyai di Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur yang menjadi catatan tersendiri oleh Yayasan Pesantren Ramah Anak (YPRA).

 

“Dari data yang kami terima sepanjang tahun 2023 ini, memang kekerasan terhadap anak santri, baik kekerasan fisik maupun kekerasan seksual, tidak mendominasi kekerasan terhadap anak secara ke seluruhan di Indonesia, hanya di kisaran 1 persen. Yang paling dominan, kekerasan terhadap anak justru terjadi di rumah tangga, anak-anak yang ada di rumahnya sendiri menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang terdekat. Namun demikian, karena pesantren adalah lembaga pendidikan moral, benteng moral, maka kasus-kasus kekerasan terhadap anak santri, terutama kekerasan seksual, sangat menjadi sorotan dan keprihatinan publik. Saat ini, data terakhir yang kami terima ada sekitar 40 ribuan pesantren di Indonesia. Dengan jumlah yang banyak ini, sangat rawan terjadinya kekerasan terhadap anak santri. Karena itu, kami dari Yayasan Pesantren Ramah Anak atau YPRA mendorong kepada semua pihak terkait, terutama Kementerian Agama RI, agar di tahun 2024 melakukan upaya preventif yang lebih efektif dan massif agar kasus-kasus kekerasan terhadap anak santri tidak terjadi lagi atau dapat diminimalisir ke angka kejadian yang paling rendah dibandingkan tahun sebelumnya,” ujar Pembina Yayasan Pesantren Ramah Anak (YPRA), KH Rakhmad Zailani Kiki alias Ustadz Kiki, dalam siaran persnya.

 

Lebih lanjut, Ustadz Kiki menyatakan bahwa bentuk upaya preventif yang massif adalah Kemenag RI, yang mempunyai struktur organisasi kerja sampai tingkat kecamatan atau KUA dengan juga melibatkan pihak-pihak terkait, langsung mendatangi pesantren-pesantren yang berjumlah 40 ribuan tersebut untuk melakukan pendataan ulang secara fisik atau langsung dan melakukan penilaian kelayakan pesantren ramah anak sesuai buku pedoman pesantren ramah anak yang diterbitkan oleh Kemenag RI. Jika pesantren yang dinilai tidak ramah anak karena rentan terjadinya tindak kekerasan fisik dan atau kekerasan seksual terhadap anak santri, maka pesantren tersebut harus mengikuti pembinaan agar menjadi pesantren ramah anak.

 

“Di tahun 2024, YPRA sendiri akan lebih intesif dalam melakukan pembinaan pesantren-pesantren di Indonesia dalam rangka memperkuat pesantren sebagai tempat pendidikan moral yang ramah anak. Karena memang sejatinya, pesantren itu ramah anak. Jika ada pesantren yang tidak atau belum ramah anak, maka kesalahannya ada di pengasuhnya, di pengajar, musyrif, muaddib atau musyrifah, muaddibahnya yang tidak atau belum ramah anak; bukan kesalahan pesantrennya sebagai lembaga,” pungkas Ustadz Kiki.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top